Bapak Lestarianto pernah menolak uang muka 1.5 miliar untuk memenuhi ekspor nila ke Korea. Maklum, dia sendiri sudah "keteteran" untuk memenuhi pasokan 75 ton ikan nila untuk ekspor dan 150 ton ikan nila untuk pasar lokal. Jika harga rata-rata ikan nila Rp 14.000 per kg, bayangkan berapa omzetnya per bulan?

Kesuksesan yang diraihnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karier dalam meraup untung dari nila ini dimulai sejak tahun 1990. Awalnya, Tari merupakan seorang pemilik industri garmen yang juga ikut membantu mengurusi kolam pancing milik orangtuanya seluas 1.000 m2. Seiring berjalannya waktu, Tari melihat bahwa bisnis di bidang perikanan Iebih menarik dan lebih menjanjikan dibandingkan dengan garmen. Karena itu, Tari mulai serius dan terus mengembangkan kolam pancing orangtuanya.

Kolam budi daya yang hanya 1.000 m2 terus berkembang menjadi 8.000 m2. Tidak hanya itu, Tari pun menciptakan jaringan atau jalur pemasaran ikan nila hasil panennya. Awalnya, di Kedungombo, kemudian ke Cangklik, Sleman, Jatiluhur, Cirata, Bandung, bahkan hingga ke Bali.

Berdasarkan perhitungannya, rata-rata per bulan dapat memasarkan 225 ton ikan nila. Jumlah ini tidak hanya berasal dari panen kolam darat, tetapi juga dari 132 keramba di Kedungombo yang ikut menyuplainya. Selain 132 keramba jaring apung, Tari juga memiliki 80 kolam air deras di Janti. Dari jumlah kolam dan keramba ini, setiap bulan Tari membutuhkan 200-250 ton pakan. Dengan harga pakan rata-rata Rp 6.500 per kg, Tari memiliki kewajiban membayar pakan ke pabrik 1.3-1.65 miliar per bulan.

"Namun, namanya usaha, pasti ada untung ada rugi," kata Tari. "Karena pernah mengalami pergantian pakan, saya pernah rugi 1.129 miliar," ungkapnya dengan tenang. Anehnya, walaupun pernah mengalami kerugian hingga lebih dari satu miliar, Tari sampai saat ini tidak pernah melibatkan bank. "Semua modal sendiri, tidak ada hutang dengan bank," ujarnya. "Kuncinya adalah konsisten," tegas Tari ketika ditanya kunci suksesnya. Berdasarkan perhitungan Tari, jika suplainya tersedia, dia akan sanggup untuk memasarkan ikan nila dari Jawa hingga Bali sebanyak 1.000 ton per bulan.

Demikian kisah Bapak Lestarianto yang telah menangguk sukses besar dalam budi daya dan bisnis ikan nila. Anda pun bisa mengikuti jejaknya, tidak mesti langsung dengan skala besar, Anda bisa memulainya dari skala kecil dahulu.


Buku Pintar Buddaya ikannilaBagaimana dengan persiapan, biaya, dan teknik pemeliharaannya? Nah, AgroMedia Pustaka menerbitkan “Buku Pintar Budi Daya & Bisnis Ikan Nila” yang akan membantu Anda secara mudah, praktis, dan bijak. Seluruh informasi yang Anda butuhkan telah dibahas secara rinci di dalamnya.

Buku yang ditulis oleh Bernard T. Wahyu Wiryanta, Sunaryo, S.P., Astuti, S.P., dan M.B. Kurniawan ini membahas seputar budi daya dan bisnis ikan nila, mulai dari prospek bisnis ikan nila, sistem budi dayanya, teknik pembenihan, sistem pendederan, teknik pembesaran, pengenalan dan penanganan hama dan penyakit, pemanenan, hingga pemasaran.

Selain itu, sebagai motivasi dan menambah bukti keyakinan Anda, disertai pula dengan kisah-kisah sukses petani ikan nila. Dari kisah-kisah ini, Anda bisa menimba pengalaman dan harapan bahwa usaha yang akan Anda mulai telah terbukti keberhasilannya. Bahkan, jika Anda merasa kesulitan membuat simulasi biaya pertama, Anda juga bisa merujuk ke contoh-contoh simulasi usaha ikan nila yang terdapat di dalam buku ini.
beliditokopediabelidibukalapak


Dikutip dari agromedia.net